495
Choirul Huda yang kini berusia 38 tahun adalah legenda Persela Lamongan. The Real Legenda. Ia menghabiskan seluruh karier sepakbolanya bersama tim dari kota yang juga terkenal dengan masakan sotonya itu. Bayangkan, ia hanya membela Pesela Lamongan. Sejak bergabung pada 1999, ia sudah tampil 500 kali bersama klub tersebut dan posisinya tidak tergantikan di bawah mistar gawang.

Sepakbola Indonesia kembali menjadi pemberitaan media-media asing. Setelah pemberitaan tentang kedatangan mantan bintang Chelsea, Michael Essien, oleh sebagian besar media asing yang membuat Liga 1 dan klubnya Persib Bandung mendunia, kali ini yang disiarkan adalah Berita Duka.

Kiper dan kapten tim Lamongan yang bermain di Liga 1 Choirul Huda meninggal dunia setelah berbenturan keras dengan rekan satu timnya, Ramon Rodrigues. Ia keluar dari sarangnya untuk menghentikan penyerang Semen Padang, Marcel Sacramento.

Setelah benturan tersebut, Choirul Huda diberitakan sempat bangkit, tapi kemudian ia terjatuh kembali sebelum dilarikan ke rumah sakit. Hanya sayang sekali, nyawanya tidak tertolong dan menghembuskan napas.

Choirul Huda yang kini berusia 38 tahun adalah legenda Persela Lamongan. The Real Legenda. Ia menghabiskan seluruh karier sepakbolanya bersama tim dari kota yang juga terkenal dengan masakan sotonya itu. Bayangkan, ia hanya membela Pesela Lamongan. Sejak bergabung pada 1999, ia sudah tampil 500 kali bersama klub tersebut dan posisinya tidak tergantikan di bawah mistar gawang.

Kabar kematian Choirul Huda pun langsung menarik perhatian dunia. Dari kawasan Asia, Bangkokpost.com menurunkan berita ini dengan judul "In Game Collision Kills Vetera Indonesia Goalkeeper Huda". Koran negara tentangga, Malaysia, The New Strait Times menurunkan berita ini di bawah judul "Legendary Indonesian keeper Choirul Huda dies after colliding with teammate."

Malahan media Spanyol Marca.com menurunkan berita viedo berjudul "Tragedy in Indonesia: Goalkepper dies after crashing into his own defender". Koran Inggris Dailymail.co.uk menulis berita kematian Choirul Huda dengan judul ini "Legendary Indonesian goalkeeper Choirul Huda, 38, dies after tragic collision with team-mate during match".

Singkatnya, berita kematian Choirul Huda ini sudah menjadi berita media-media internasional. Tentu saja, ini sebuah tamparan untuk sepakbola Indonesia yang sedang membangun image positif dengan membangun liga yang kompetitif setelah dibekukan FIFA selama hampir dua tahun serta membangun tim nasional yang kuat dan solid.

Memang, tidak ada satu orang pun di dunia ini termasuk PSSI dan pengelola Liga 1 untuk menghalangi kematian seseorang, termasuk pemain. Tapi otoritas sepakbola Indonesia harus segera berbenah diri agar tidak ada lagi pemain yang meninggal di atas lapangan hijau seperti yang dialami Choirul Huda.

Mudah-mudahan Choirul Huda menjadi pemain terakhir Indonesia yang meninggal di atas lapangan hijau. Untuk saat ini, sepakbola Indonesia pantas mengibarkan bendera setengah tiang. Namun, ke depan diharapkan, media-media asing hanya memberitakan tentang prestasi sepakbola Indonesia dan liga indonesia yang sama berkualitasnya dengan liga-liga di Eropa.

Atau, misalnya, makin banyaknya bintang-bintang sepakbola Eropa yang ramai-ramai merumput di Liga Indonesia sebagaimana mereka menyerbut Liga China. Tentu saja ini harapan yang butuh waktu panjang serta kerja keras dan sangat serius untuk mewujudkannya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bendera Setengah Tiang Iringi Kepergian Choirul Huda". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !