795
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi penyelamat. Mereka menjadi pahlawan untuk Indonesia.

Indonesia akhirnya meraih emas pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Ini adalah emas pertama dan terakhir pada pesta olahraga multicabang empat tahunan ini. Sempat diselimuti kekhawatiran pulang tanpa emas, setelah ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang paling dijagokan meraih emas tapi justru tersingkir di fase grup, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir menjadi penyelamat. Mereka menjadi pahlawan untuk Indonesia.

Owi/Butet, sapaan keduanya, melanjutkan tradisi emas dari cabang bulutangkis untuk Indonesia. Tradisi ini dibuka tunggal putri Susy Susanti dan tunggal putra Alan Budikusuma pada Olimpiade Barcelona 1992 dan berlanjut hingga Olimpiade Rio de Janeiro 2016 lewat Owi/Butet. Tradisi ini sempat putus pada Olimpiade London 2012 saat bulutangkis hanya mampu membawa pulang satu medali perak dan perunggu.

Medali emas Owi/Butet ini menjadi lebih bermakna karena dipersembahkan ketika Ibu Pertiwi sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-71. Karena itu, beberapa pejabat seperti Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi dan Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Indonesia (PP PBSI) Gita Wirjawan menilai, ini sebuah kado yang paling indah untuk Ibu Pertiwi.

Makna ini kemudian mendapat aksen lebih ketika Tonto Ahmad menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan haru. Kamera televisi menyorot tajam ketika ia seolah menahan tangis saat sambil menyanyikan Indonesia Raya di atas podium mengiring bendera merah putih yang dikibarkan lebih tinggi dari bendara Malaysia dan Cina.

Sesungguhnya, satu emas dari cabang bulutangkis masih kurang. Sebab, PP PBSI memasang target minimal dua emas dari cabang tepok bulu ini. Satu nomor lain yang paling diandalkan adalah ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Sayang, pasangan ganda terbaik Indonesia ini kandas di fase grup.

Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir mengepalkan tangan setelah meraih medali emas pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016. (Foto: www.badmintonindonesia.org)

Meski demikian, satu emas ini cukup menyelamatkan cabang bulutangkis pada khususnya, karena merekalah peserta paling banyak dalam kontingen Indonesia ke Olimpiade Rio de Janeiro. Bulutangkis mengutus 10 atlet yaitu ganda putra, ganda putri, ganda campuran (dua pasang), tunggal putra dan tunggal putri. Kalau saja mereka gagal mempersembahkan emas, tentu saja ini menjadi mala petaka.

Cabang kedua yang mempersembahkan medali untuk Indonesia adalah angkat besi. Meski belum mendapat fasilitas semewah bulutangkis, angkat besi sudah mengharumkan nama bangsa di pentas internasional. Pada Olimpiade 2016 ini, mereka menyumbang dua medali perak masing-masing dari Sri Wahyuni di kelas 48 kilogram putri dan Eko Yuli pada kelas 62 kilogram putri.

Total, Indonesia hanya meraup tiga medali pada Olimpiade 2016 ini. Untuk ukuran Asia Tenggara, kita masih kalah dari Thailand yang sudah mengantongi enam medali masing-masing dua emas, dua perak, dan dua perunggu. Untuk sementara, kita sedikit lebih baik dari Vietnam dan Singapura yang masing-masing meraih satu emas.

Indonesia harus bekerja lebih keras lagi guna menyamai bahkan melewati Thailand pada Olimpiade empat tahun mendatang dan tidak terlewati oleh Vietnam dan Singapura. Bulutangkis dan Angkat Besi tetap akan menjadi andalan. Cabang-cabang lain juga harus terus didorong agar bisa ikut mengharumkan nama bangsa seperti Owi dan Butet yang sudah membanggakan Indonesia dan menjadi pahlawan Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Pahlawan Indonesia Itu Bernama Owi/Butet". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !