11.6K
Sudah ada tiga pemain kelas dunia yang akan merumput di Liga 1 Indonesia musim ini yaitu Michael Essien dan Charlton Cole di Persib Bandung dan Peter Odemiwingie di Madura United.

Liga 1, kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia, resmi digelar pada 15 April 2017 mendatang. Setelah absen selama satu musim akibat sanksi Federasi Sepakbola Dunia atau FIFA terhadap PSSI, menyusul kisruh dalam tubuh persepakbolaan nasional, tahun ini liga kembali bergulir.

Liga 1 ini bakal berlangsung lebih menarik karena kehadiran pemain-pemain kelas dunia yang pernah bersinar pada masanya bersama klub masing-masing terutama di Liga Inggris. Publik sepakbola Indonesia tidak sabar lagi menyaksikan aksi mereka di atas lapangan hijau. Apakah masih ada yang tersisa dari era keemasannya.

Sudah ada tiga pemain kelas dunia yang akan merumput di Liga 1 Indonesia musim ini yaitu Michael Essien dan Charlton Cole di Persib Bandung dan Peter Odemiwingie di Madura United. Mereka adalah pemain yang sudah memasuki usia jelang pensiun. Tapi nama besar mereka tetap menjadi magnet tersendiri untuk sepakbola Indonesia.

Lalu seperti apa profil mereka?

Michael Essien

Nama lengkapnya adalah Michael Kojo Essien. Ia lahir 3 Desember 1982 di Accra, Ghana. Pemain dengan tinggi badan 1,78 sentimeter ini pernah membela klub elite Inggris, Chelsea, klub bertabur bintang Real Madrid, dan kluk raksasa Italia, AC Milan.

Ia sangat bersinar ketika membela Chelsea, terutama ketika klub itu dilatih Jose Mourinho. Ia menjadi pilihan utama Mourinho di gelandang bertahan The Blues. Meski demikian, ia juga bisa tiba-tiba berada di dalam kotak penalti lawan dan mencetak gol.

Dalam kondisi darurat di lini belakang, ia bisa dimainkan sebagai bek. Peran ini sering dijalankannya di bawah asuhan pelatih Jose Mourinho. Ketika Chelsea krisis bek tengah, Mourinho memasangnya sebagai bek. Karena itu, ia adalah pemain serba bisa.

Ia memulai karier sepakbolanya setelah lulus dari Kolose St Agustinus di Cape Coast, Ghana. Ia sempat bermain untuk klub lokal Liberty Professionals. Nasibnya berubah drastsis setelah ia membela Timnas Ghana di Piala Dunia Dunia U-17 di Selandia Baru. Para pemandu bakal langsung terpikat dengan kelihaiannya mengolah si kulit bundar.

Klub-klub Eropa kemudian memperebutkannya. Ia sempat mengikuti tes di Manchester United. Ia dinyatakan lulus dan ditawari kontrak tapi ia tak kunjung mendapat izin bekerja di Inggris. Sebenarnya, ia hendak "disekolahkan" terlebih dahulu di klub Belgia, Royal Antwerp, sambil menunggu izin kerja di Inggris, tapi ibunya lebih suka kalau dia bermain di Prancis.

Maka, ia memulai karier profesionalnya bersama klub Ligue 1 Prancis, Bastia, dan menjalani debutnya bersama klub itu pada 30 September 2000 melawan Metz. Meskipun, ia masuk sebagai pemain pengganti. Sayang, perkembangannya di klub itu tidak terlalu menggembirakan. Meski demikian, klub-klub besar Prancis, seperti PSG, Lyon, dan Marseille rebutan mendapatkan tanda tangannya.

Setelah tiga tahun membela Bastia, pada 2003, PSG sebenarnya sudah sepakat membelinya, tapi Essien ogah menandatangani kontrak. Ia lebih menerima pinangan Lyon dengan mahar 7,8 juta euro dan membela klub itu hingga musim panas 2005.

Pada musim panas 2005, Mourinho memboyongnya ke Stamford Bridge seharga 24,4 juta pound. Di sinilah bintangnya bersinar terang. Ia menyumbangkan berbagai gelar baik sebagai juara Liga Inggris, Piala FA, maupun Piala Liga untuk Chelsea.

Ia mulai dibekap cedera pada 2010 ketika membela Ghana di Piala Afrika 2010. Cedera ini membuatnya juga absen membela Ghana di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Sempat pulih dari cedera, tapi pada persiapan pramusim 2011-2012, Essien mengalami cedera otot ligamen yang parah. Sejak itulah, prestasinya terus menurun.

Pada musim panas 2012 dipinjamkan ke Real Madrid mengikuti mantan bosnya, Jose Mourinho yang menukangi klub itu sejak 2010. Namun ia hanya bermain 20 kali selama satu musim di Santiago Bernabeu. Pada musim panas 2013, ia dibuang ke Milan. Selama dua musim di San Siro, ia hanya tampil 20 kali, masing-masing tujuh pertandingan pada musim pertama dan 13 laga di musim keduanya. Terakhir, ia hengkang ke klub Yunani Panathinaikos pada musim panas 2015 tapi ia hanya bermain 12 kali sebelum akhirnya hijrah ke Persib pada Maret 2017.

Di Persib ia mengenakan nomor punggung lima dan kehadirannya membuat Persib terkenal di seluruh dunia. Karena beritanya ditulis oleh surat-surat kabar dan online top dunia.

Charlton Cole

Sumber Foto: Tribun Jabar

Kalau Essien mencapai puncak kariernya di Chelsea, Charlton Cole lain lagi. Pria 33 tahun kelahiran Croydon, London, Inggris 12 Oktober 1983 dari seorang ibu asal Sierra Leonean itu, memulai kariernya di Chelsea. Ia membela klub itu sejak 2001 sampai 2006 tapi hanya 25 kali tampil dan mencetak empat gol.

Namun dalam kurun waktu yang panjang itu, ia tiga kali dipinjamkan ke beberapa klub. Musim 2002-2003, pria jangkung setinggi 1,91 sentimeter itu dipinjamkan ke Wolverhampton Wanderers, Chalton Athletic (2003-2004), dan Aston Villa (2004-2005).

Selama di Chelsea, ia bermain bersama salah satu legenda klub London Barat itu, Gianfranco Zola pada musim 2002-2003. Bahkan debutnya di Chelsea dilakoni saat masuk menggantikan Zola ketika Chelsea menang atas Charlton Athletic.

Kecemerlangan Cole baru tampak ketika dia membela West Ham United pada musim 2006-2015. Bersama klub itu, ia tampil 256 kali dengan total 55 gol. Tapi dua musim terakhir di klub yang bermarkas di London itu, kariernya agak menurun. Itu sebabnya, ia kemudian dilego ke Celtic pada musim panas 2015. Selama satu musim di Celtic, ia hanya main empat kali. Pada 2016, ia pindah lagi ke Sacramento Republic tapi hanya bermain tiga kali sebelum akhirnya memilih bergabung dengan Persib Bandung pada Maret 2017.

Peter Odemwingie

Sumber Foto: Muzul

Nama lengkap pria ini adalah Peter Osaze Odemwingie. Ia seorang pesepakbola profesional dari Nigeria. Pria bertinggi badan 1,82 sentimeter itu lahir di Tashkent, Uzbekistan pada 15 Juli 1981 dari seorang ayah asal Nigeria dan ibu berkebangsaan Rusia. Tapi dalam karier internasional, ia lebih memilih membela Nigeria dibanding Rusia, negara ibunya.

Dibandingkan dengan Essien, Odemwingie kalah tenar di Indonesia karena ia hanya membela klub-klub yang tidak terlalu akrab di telinga pencinta sepakbola Indonesia.

Karier sepakbolanya dibangun sejak ia bergabung dengan klub amatir AS Racines di Lagos, Nigeria. Kemudian ia naik kelas menjadi pemain profesional ketika bergabung dengan klub Liga Primer Nigeria, Bendel Insurance. Bersama klub ini, ia mencetak 19 gol pada 53 pertandingan selama dua tahun membela klub itu pada 2000-2002.

Ia mulai mencicipi sepakbola Eropa ketika itu mengikuti seleksi di klub Belgia, Anderlech. Tapi ia gagal di sana sebelum akhirnya bergabung dengan klub Belgia lainnya, La Louviere, pada 2003. Musim pertamnya di klub itu, ia sukses mempersembahkan gelar juara Piala Belgia dan membawa klub itu lolos kualifikasi Piala UEFA. Ia mencetak sembilan gol pada 44 pertandingan.

Kesuksesan di La Louviere membuat klub Prancis, Lille kepincut. Mereka membelinya pada musim panas 2004. Ia membela klub itu hingga 2007 dan menyumbang 23 gol pada 75 pertandingan. Penampilan ciamiknya di Prancis membuat pria yang terkenal dengan kecepatan dan teknik tinggi itu membuat klub-klub Eropa memburunya.

Dari sekian tawaran yang datang, ia lebih memilih bergabung dengan klub Rusia, Lokomotiv Moscow, pada musim panas 2007 dengan mahar 14 juta dolar Amerika Serikat untuk durasi kontrak 4,5 tahun. Tapi ia hanya bertahan tiga musim di Lokomotiv Moscow dan tampil pada 75 kali pertandingan dan mencetak 21 gol.

Puncak penampilannya terjadi ketika membela klub Inggris West Bromwich Albion pada musim 2010-2013. Ia tampil 87 kali dan mencetak 30 gol. Ia sempat membela Cardiff City selama satu musim, tapi hanya menyumbang satu gol dari 15 kali tampil. Ia lalu berseragam Stoke City pada 2014-2016, tapi hanya bermain 27 kali dengan menyumbang lima gol.

Terakhir (2016-2017) ia berseragam Rotherdam United, tapi hanya bermain tujuh kali tapi tidak mencetak satu gol pun, sebelum akhirnya bergabung dengan Madura United. Di Madura United, ia bakal menggunakan nomor punggul 24.

Ia tercatat membela Timnas Nigeria sejak 2002-2014 dan sudah tampil 63 kali dan menyumbang 10 gol untuk negara itu. Ia adalah salah satu pemain yang membela Nigeri pada Olimpiade 2008.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Ini Profil Pemain-pemain Kelas Dunia di Liga 1 Indonesia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !