3.4K
Dengan sisa 13 pertandingan di Liga Primer, Leicester masih memiliki peluang untuk lolos dari zona degradasi. Tapi siapakah pelatih yang bisa menyelamatkan Leicester? Kita tunggu saja. Semoga Ranieri dinaungi kesuksesan dalam karier selanjutnya.

Saya baru menulis tentang Claudio Ranieri, pelatih Leicester United, Kamis, 23 Februari 2017. Temanya tentang kegembiraan sang pelatih, meski kalah 1-2 dari Sevilla pada leg pertama babak 16 besar Liga Champions di Ramon Sanchez Pizjuan, kandang Sevilla pada dini hari itu.

Baca selengkapnya di sini: Loh kok Bisa, Ranieri Tetap Senang Meski Leicester Kalah dari Sevilla?

Di mata Ranieri, satu gol yang dicetak timnya di kandang Sevilla menjadi modal berharga saat melakoni laga kedua di kandang Leicester, King Power Stadium, pada leg kedua bulan depan. Sayang sekali, hanya selang sehari, muncul berita bahwa pelatih asal Italia ini dipecat oleh manajemen klub.

Keputusan itu dinilai sebagai yang paling tepat untuk menyelamatkan klub itu dari degradasi. The Foxes berada di peringkat ke-17 klasemen sementara, atau hanya satu tingkat di atas zona degradasi, juga dengan jarak satu poin dari tim di bawahnya. Pemecetan Ranieri dianggap tepat untuk menyelamatkan tim itu hingga akhir musim nanti.

Pemecatan ini membuat seluruh kisah sukses bak dongeng yang dirajut Ranieri sepanjang musim 2015-2016 hilang semuanya. Racikan Ranieri membuat dua pemainnya Riyad Mahrez dan Jamie Vardy merebut titel pemain muda terbaik dan pemain terbaik Liga Primer Inggris musim lalu. Sentuhan tangan dingin sang The Thinker Man juga membawa beberapa pemainnya seperti Vardy dan Danny Drinkwater masuk ke Timnas Inggris.

Selain itu, Ranieri menyulap N'Golo Kante menjadi seorang gelandang kelas dunia dan membuatnya dilirik klub-klub besar. Pada akhirnya, pemain internasional Prancis ini direkrut Chelsea. Di klub London Barat itu pun, Kante menjadi salah satu pemin kunci di lini tengah skuat besutan Antonio Conte.

Lebih spetakuler lagi, racikan taktik Ranieri sepanjang musim lalu, membawa Leicester bermain di Liga Champions. Bahkan, di kompetisi antarklub paling elite di dunia itu, mereka bisa lolos hingga babak 16 besar, mengalahkan Tottenham Hotspur yang hanya finis di fase grup, sebelum akhirnya kalah 1-2 di leg pertama yang berujung pada pemecatan Ranieri dari kursi pelatih.

Pemecatan ini dilakukan menyusul kekalahan demi kekalahan Leicester yang musim lalu menjadi jawara Liga Primer Inggris, termasuk kekalahan dari Sevilla di ajang Liga Champions itu. Ya, musim ini, Leicester memang kurang akrab dengan kemenangan. Kehilangan N'Golo Kante di lapangan tengah sangat memengaruhi permainan tim.

Selain itu, gelar juara musim lalu membuat para pemain silau. Mereka seolah terbang dan tidak menginjak bumi. Padahal, Ranieri sudah sejak awal musim mengingatkan para pemainnya untuk tidak jumawa. Selain itu, sepanjang musim ini, para pemain Leicester tidak memmperlihatkan mental dan karakter seperti musim sebelumnya.

Sejak awal musim, mereka kehilangan karakter. Pemain bintang seperti Mahrez dan Vardy sama sekali tidak berkutik. Mereka kehilangan daya magis. Padahal, musim lalu mereka sangat memukau dan menjadi pemain yang paling ditakuti lini belakang tim lawan. Ranieri seolah kehilangan akal bagaimana mengembalikan performa terbaik pemain-pemainnya ini. Para pemain pendatang baru pun tidak sulit menaikkan kepercayaan diri teman-temannya.

Tapi apa mau dikata. Ranieri sudah dipecat. Belum ada pengganti yang definitif. Dengan sisa 13 pertandingan di Liga Primer, Leicester masih memiliki peluang untuk lolos dari zona degradasi. Tapi siapakah pelatih yang bisa menyelamatkan Leicester? Kita tunggu saja. Semoga Ranieri dinaungi kesuksesan dalam karier selanjutnya.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Eh, Ranieri Malah Dipecat". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !