2.1K
"Stelah berhasil menjuarai Liga Inggris, Kompetisi Eropa menunggu The Blues untuk unjuk kekuatan"

Musim 2016-2017 akan selalu dikenang suporter The Blues karena keberhasilan kesebelasan mereka menjuarai Liga Primer untuk yang keempat kalinya sejak Liga Primer berubah format pada 1992. Spesialnya, trofi ini hadir setelah pada musim sebelumnya Chelsea babak belur bersama Jose Mourinho, bahkan nyaris degradasi sebelum akhirnya Guus Hiddink hadir sebagai juru selamat dengan posisi akhir di peringkat ke-10. Hal ini lah yang membuat Chelsea tidak lolos ke Eropa untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir.

Aktor di balik kesuksesan Chelsea adalah Antonio Conte. Allenatore alias pelatih yang selalu terlihat energik ini mengikuti jejak Carlo Ancelotti yang langsung membawa Chelsea juara di musim perdananya. Selain itu, ini menjadi sejarah juga di Liga Primer sebab gelar juara direbut oleh dua kesebelasan yang dilatih oleh juru taktik asal Italia dan secara berturut-turut. Hal ini secara tak langsung membuat peracik asal Italia menjadi kesohor di negara Ratu Elizabeth ini.

Kembali lagi ke Conte, awal musimnya di Liga Primer sempat berjalan mulus dengan dua kemenangan beruntun. Namun, kekalahan beruntun dari rival mereka yaitu Liverpool dan Arsenal membuat mata Conte seolah terbuka dan melakukan revolusi taktik dengan penggunaan 3-4-3 yang menjadi trademark Conte yang gemar menggunakan tiga bek. Hasilnya? 11 kemenangan beruntun diraih (sebelum dikalahkan oleh Spurs) dan semenjak itu Chelsea tak terbendung dan meraih gelar juara Liga Primer.

Apa yang dilakukan Conte pada Chelsea membuat saya teringat pada Juventus saat Conte masih menangani La Vecchia Signora. Bila kita flashback saat Conte menangani Juventus pada musim 2011/2012, Juventus juga sempat terpuruk di musim sebelumnya dengan menempati peringkat tujuh yang berakibat mereka tak lolos ke Eropa. Di musim perdana Conte bersama Juve, ia pun berhasil mempersembahkan trofi Serie A dengan status tak terkalahkan.

Seolah kembali bernostalgia, saya merasa Conte bisa menularkan kesuksesannya ke Chelsea persis saat ia menangani Juventus. Selain itu, saya juga melihat kesuksesan kembar Conte di Juve dan Chelsea saat di musim perdana melatih kedua kesebelasan mereka. Poin-poin kembar yang saya dapat adalah sebagai berikut:

Sama-sama ditukangi saat hancur di musim sebelumnya

Antonio Conte datang ke Juventus dan Chelsea disaat kedua kesebelasan ini terpuruk di musim sebelum mereka juara. Juve berada di peringkat 7 dan Chelsea di peringkat 10. Tidak beda jauh, kan? Selain itu, mereka sama-sama tidak masuk Eropa di musim ketika mereka menjadi juara liga.

Sama-sama menggunakan formasi tiga bek saat juara liga

Bisa dibilang, formasi tiga bek adalah andalan Conte untuk menjadi jawara di Serie A dan Liga Primer. Saat di Juventus, ia menggunakan trio Bonucci-Chiellini-Barzagli. Sedangkan di Chelsea ia menggunakan trio Azpilicueta-Cahill-David Luiz.

Sama-sama punya gelandang kunci

Dulu saat masih bermain, Conte adalah seorang gelandang yang mumpuni di zamannya. Hasilnya, insting sebagai gelandangnya masih ada namun dipakai untuk mendapatkan gelandang mumpuni. Saat di Juventus, kita tahu bahwa Conte berhasil mendapatkan gelandang kenamaan Italia yaitu Andrea Pirlo secara gratis dari AC Milan.

Pirlo juga menjadi kunci sukses Juve meraih scudetto. Lalu hal ini juga terjadi saat di Chelsea kala Conte mendapatkan N’Golo Kante dari Leicester City. Kante juga lah yang menjadi kunci solid lini tengah Chelsea sebab Kante adalah orang pertama yang menghalau serangan lawan dan hal inilah yang banyak membantu Chelsea.

Sama-sama ditinggal kapten dan legenda di musim setelah juara

Saat juara, Juventus dan Chelsea memiliki kapten sekaligus legenda hidup mereka yaitu Allesandro Del Piero dan John Terry. Namun setelahnya, kedua kapten dan legenda itu sama-sama hengkang dari kesebelasan yang sudah membesarkan nama mereka tersebut. Perlu digarisbawahi mereka berdua hengkang ketika Juve dan Chelsea masih ditangani Conte. Kebetulan?

***

Itulah beberapa poin kembar yang saya temui. Poin-poin di atas memang secara tidak langsung memiliki kesamaan namun bila dilihat secara jelas maka akan sangat banyak kesamaan yang didapat saat Conte memimpin kedua tim tersebut. Mari kita tinggalkan Conte saat ini, mari kita kembali flashback pasca Conte meraih scudetto bersama Juve di musim perdananya.

Musim 2012/2013 adalah musim ketika jadwal Conte bertambah satu yaitu Liga Champions. Musim itu adalah musim terpadat pertama Conte selama karier kepelatihannya (sebelum melatih Juve, Conte melatih Serina yang ironisnya bermain di Serie B). Uniknya, Conte bertemu Chelsea di fase grup dan berhasil menyingkirkan kesebelasan yang bakal dilatihnya 4 tahun kemudian.

Namun sayang, perjalanan pertama Conte di Eropa terhenti oleh Bayern Muenchen di babak delapan besar. Kendati demikian, Juve malah mendapat double winner di ajang domestik dengan kembali meraih scudetto dan Coppa Italia.

Musim 2013/2014, lagi-lagi Conte kembali ke Liga Champions. Lagi-lagi juga ia gagal di kompetisi Eropa. Malah, kali ini ia gagal membawa Juve lolos dari fase grup setelah hanya finis di peringkat tiga di bawah Real Madrid dan Galatasaray. Namun di ajang domestik, Conte berhasil membawa hat-trick juara Serie A. Ini menjadi trofi terakhir Conte bersama Juve sebab di musim 2014/2015, ia mundur dari Juve dan menangani timnas Italia.

Bila dilihat, sepak terjang Conte bersama Juve bisa dikatakan sangat garang di domestik namun melempem di Eropa. Hal ini harus diwaspadai oleh suporter The Blues di Liga Champions musim 2017/2018 sebab Conte tidak terlalu memiliki DNA yang kuat di Eropa. Bila melihat hasil transfer pemain Conte hingga detik ini yaitu Willy Caballero, Antonio Ruediger, Alvaro Morata, dan Tiemoue Bakayoko, suporter Chelsea bisa berharap banyak di semua kompetisi yang diikuti Chelsea musim depan.

Sumber: PanditFootball


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Chelsea: Eropa Menunggu Skuad Allenatore Antonio Conte". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !