6.5K
Lima sampai 10 tahun mendatang, kualitas sepakbola Indonesia dan timnas negeri ini tidak terlau jomplang dengan negara-negara lain seperti dengan Thailand yang keterampilan individu dan tim berada satu tingkat di atas Indonesia, termasuk dengan Jepang dan Korea Selatan di tingkat Asia yang sudah beberapa tingkat di atas Indonesia.

Timnas Indonesia sudah merampungkan misinya di Piala AFF 2016. Hasilnya, mereka hanya menjadi runner up di bawah Thailand yang kembali menjadi jawara pesta sepakbola tertinggi di Asia Tenggara tersebut. Meskipun, Indonesia sukses menang 2-1 pada final leg pertama di Stadion Pakansari, Rabu, 14 Desember 2016, tapi Boaz Solossa dan kawan-kawan keok 0-2 pada final leg kedua di Bangkok, Sabtu 17 Desember 2017.

Tentu saja ada yang tidak puas dengan prestasi ini. Tapi, bila melihat persiapan tim, ini hasil paling maksimal. Karena itu, tim Garuda layak mendapat apresiasi dari seluruh rakyat Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah mengkonkritkan apresiasinya dengan memberi hadiah Rp 200 juta untuk masing-masing pemain dan Rp 150 juta untuk ofisial di Istana Merdeka, Senin, 19 Oktober 2016 siang.

Ini layak mereka terima. Sebab kerja keras dan perjuangan tanpa kenal lelah para pemain di atas lapangan sangat membanggakan. Di tengah suasana politik yang membuat rakyat tercabik-cabik dan terkotak-kotak, hanya Timnas Indonesia yang bisa menyatukan seluruh rakyat Indonesia yang majemuk.

Apalagi kalau melihat waktu persiapan menjelang turnamen ini. Indonesia hanya punya waktu tiga bulan mulai dari mengumpulkan pemain hingga sampai laga fase grup. Padahal, negara-negara ASEAN lainnya memiliki waktu persiapan lebih panjang. Laga-laga uji tanding yang dijalani Indonesia pun sangat minim. Beda dengan negara-negara lain yang melakoni pertandingan persahabatan dengan sangat optimal.

Maklum, Indonesia baru saja terbebas dari hukuman Federasi Sepakbola Dunia (FIFA) menyusul pembekuan PSSI oleh pemerintah. Setelah pembekuan dicabut, Indonesia harus mulai dari nol dalam hal persiapan tim menuju Piala AFF 2016.

Belum lagi masalah pembatasan pemain dari pihak klub untuk Timnas yang hanya dibolehkan mengirim dua pemain. Peraturan ini sangat tidak masuk akal dan merugikan timnas. Seharusnya, klub merelakan pemain-pemain terbaiknya untuk membela negara. Berapa pun banyaknya.

Di negara lain, tidak ada pembatasan jumlah pemain dari setiap klub untuk timnasnya. Contoh, Italia lebih banyak dihuni para pemain Juventus karena mereka adalah juara Italia. Spanyol juga banyak dibela para pemain Real Madrid dan Barcelona karena pemain-pemain terbaik negeri itu ada di dua klub tersebut. Begitu juga Jerman yang mayoritas dibela oleh pemain-pemain dari Bayern Muenchen dan Borussia Dortmund. Atau Inggris yang dilebih banyak dibela para pemain Manchester United, Manchester City, Liverpool, Chelsea, Arsenal, dan Tottenham Hotspur.

Jangan Dibatasi

Sumber Foto: Detik.com

Ke depan, aturan pembatasan pemain seperti ini tidak boleh dilakukan lagi. Untuk itu, jadwal turnamen antarnegara ini tidak boleh lagi dilakukan ketika liga domestik sedang berlangsung agar klub tidak dirugikan. Para pengurus asosiasi sepakbola negara ASEAN seharusnya duduk satu meja untuk mengatur jadwal liga negara masing-masing. Apakah mau meniru jadwal Eropa yang dimulai Agustus-Mei atau meniru Amerika Serikat dan Jepang yang dimulai Januari-November. Dengan demikian, kompetisi antarnegara ini harus digelar ketika liga di masing-masing negara libur.

Untuk meningkatkan kualitas Timnas Indonesia, PSSI masih memiliki begitu banyak pekerjaan rumah. Salah satunya adalah pembenahan liga. Timnas yang berkualitas akan dihasilkan oleh liga yang berkualitas. Liga yang berantakan hanya akan menghasilkan timnas yang babak belur pula. Karena itu, keterampilan dasar para pemain diasah di tingkat klub.

Tidak boleh ada lagi pemain timnas yang salah menahan bola, operan tidak tepat, atau hanya menonton saat lawan menguasai bola.

Terkait dengan ini, seharusnya PSSI menyekolahkan pulahan bahkan ratusan orang pelatih ke negera-negara yang sepakbolanya sudah maju seperti Inggris, Spanyol, Jerman, Italia atau negara-negara Amerika Latin seperti Brasil, Argentina, dan Uruguay. Harapannya, setelah tamat, para pelatih itu pulang ke Indonesia dan melatih di klub-klub negeri ini.

Para pelatih lulusan luar negeri itu akan berkompetisi di liga Indonesia lewat klub-klub yang mereka tangani. Taktik dan strategi mereka diadu di kompetisi domestik. Harapan lebih jauhnya adalah dari tangan mereka akan lahir pemain-pemain kelas dunia yang jauh lebih berkualitas. Mereka-mereka itulah yang akan memperkuat Timnas Indonesia di masa mendatang.

Bila ini terwujud, maka lima sampai 10 tahun mendatang, kualitas sepakbola Indonesia dan timnas negeri ini tidak terlau jomplang dengan negara-negara lain seperti dengan Thailand yang keterampilan individu dan tim berada satu tingkat di atas Indonesia, termasuk dengan Jepang dan Korea Selatan di tingkat Asia yang sudah beberapa tingkat di atas Indonesia.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Catatan Kecil untuk Pembenahan Timnas Indonesia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !