375
Dalam 15 tahun terakhir, Konfederasi Sepakbola Islandia (KSI) melakukan investasi besar-besaran dalam sepakbola. Mereka membangun 30 lapangan rumput besar (ukuran normal) untuk semua musim, tujuh di antaranya berada dalam ruangan agar anak-anak di negeri itu tetap bisa bermain sepakbola pada musim dingin. Selain itu mereka juga membangun 150 lapangan dengan rumput artifisial yang lebih kecil

Islandia menjadi negara kedelapan dari Eropa yang lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 di Rusia menyusul tuan rumah Rusia, Belgia, Inggris, Spanyol, Jerman, Polandia, dan Serbia. Kepastian itu diraih setelah menang dua gol tanpa balas atas Kosovo pada pamungkas Grup I, Selasa 10 Oktober 2017 dini hari WIB. Tambahan tiga angka ini menempatkan Islandia sebagai jawara Grup I dan lolos otomatis ke Rusia tahun depan.

Ini adalah kesuksesan terbesar kedua secara beruntun Islandia dalam dua tahun terakhir. Pada Piala Eropa 2016 lalu, mereka lolos hingga perempat final sebelum akhirnya dikalahkan tuan rumah Prancis di babak delapan besar. Mereka lolos setelah menyingkirkan tim bertabur bintang, Inggris.

Bagi Islandia, ini adalah keikutsertaan pertama mereka di Piala Dunia sepanjang sejarah. Sebagai pendatang baru, mereka bakal dianggap sebelah matah oleh negara-negara langganan Piala Dunia. Meski demikian, lolos ke putaran final saja sudah merupakan prestasi yang hebat untuk Islandia.

Mengapa? Karena Islandia adalah negara yang sangat kecil. Luas wilayahnya hanya 102.775 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 329.000 (menurut sensus 2015). Artinya, Islandia hanya sepersekian dari luas DKI Jakarta yang mencapai 660.000 hektar dengan jumlah penduduk 10 juta. Menurut Wikipedia, sebagian besar rakyat Islandia tinggal di Ibukota, Reykjaviv.

Meski negara kecil, tapi sepakbola mereka sudah sangat maju, dalam satu dekade terakhir. Perhatikan data-data sederhana ini yang dipaparkan BBC.com. Pada Mei 2012, Islandia masih berada di peringkat 131 dunia. Namun, tahun lalu, mereka sudah sukses tembus peringkat 31 dunia.

Padahal di negeri itu tidak ada klub profesional. Tapi, mereka memiliki pelatih berlisensi B Uefa sebanyak 639 orang, sedangkan pelatih berlisensi A Uefa sejumlah 196. Pelatih berlisensi pro Uefa hanya 13 orang.

Meski demikian, dalam 15 tahun terakhir, Konfederasi Sepakbola Islandia (KSI) melakukan investasi besar-besaran dalam sepakbola. Mereka membangun 30 lapangan rumput besar (ukuran normal) untuk semua musim, tujuh di antaranya berada dalam ruangan agar anak-anak di negeri itu tetap bisa bermain sepakbola pada musim dingin. Selain itu mereka juga membangun 150 lapangan dengan rumput artifisial yang lebih kecil.

Hasil investasi besar-besaran itu lahirlah bibit-bibit sepakbola seperti Gylfi Sigurdsson yang sekarang merumput bersama Tottenham Hotspur di Liga Primer Inggris. Sekarang, Sigurdsson menjadi contoh bagi anak-anak muda Islandia untuk meraih sukses di dunia sepakbola.

Sebelum dia, sudah ada pemain kelas dunia seperti Eidur Gudjohnsen yang pernah membela Chelsea. Pemain yang kini berusia 37 tahun ini masih membela Islandia pada Piala Eropa 2016. Belum bisa dipastikan, apakah ia masih bisa membimbingi para yuniornya di Rusia tahun depan.

Bekat investasi besar-besaran itu, para pemain muda berbakat Islandia sukses tembus ke kejuaraan Eropa U-21 pada 2011. Ini adalah turnamen besar pertama yang diikuti Islandia.

Bandingkan prestasi Islandia dengan Indonesia yang mahaluas dengan penduduk lebih dari 250 juta jiwa. Jangankan ke Piala Dunia, di tingkat Asia Tenggara saja, Indonesia masih kalah bersaing dari Malaysia dan Thailand dalam urusan sepakbola.

Masalah Indonesia

Mengapa sepakbola Indonesia tidak pernah maju? Karena organisasi sepakbola di negeri ini dijadikan kendaraan politik oleh para pengurusnya. Mereka duduk di kursi kepengurusan hanya untuk mendapat jabatan politik. Lebih dari itu, para politisi yang mengurus sepakbola tidak murni menjalanan tugas pokok mereka memajukan sepakbola, tapi hanya untuk mencuri uang dari sana. Makanya sepakbola Indonesia tidak maju-maju.

Padahal Indonesia memiliki potensi yang sangat besar menjadi sebuah negara bola, sejajar dengan Korea Selatan dan Jepang yang selalu menjadi langganan ke Piala Dunia dari Asia. Masa tidak ada 24 atau 36 pemain terbaik dari 250 juta rakyat Indonesia? Sekali lagi, Indonesia punya potensi. Masalahnya, selama berpuluh-puluh tahun, potensi itu tidak pernah digarap dengan serius.

PSSI juga tidak pernah menyekolahkan para pelatih Indonesia ke luar negeri seperti ke Inggris, Italia, Spanyol atau Jerman yang sepakbolanya sudah maju atau ke negara-negara Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina. Padahal dengan pelatih berkualitas dunia, bakal lahir pemain berkelas dunia pula di Indonesia.

Kalau pun sekarang banyak sekolah sepakbola di sini, terutama di Jabodetabek, PSSI tidak pernah menyelenggarakan kommpetisi di antara sekolah-sekolah sepakbola tersebut. Padahal, kalau ada kompetisi yang bersifat teratur, akan lahir bibit-bibit sepakbola yang diharapkan meningkatkan drataj prestasi sepakbola bangsa ini.

Penunjukan Luis Milla dan Indra Sjafri sebagai pelatih tim senior dan tim U-19 Indonesia diharapkan menjadi titik awal mulai berkibarnya sepakbola Indonesia. Minimal hal itu sudah terlihat dalam Timnas U-19 polesan Indra Sjafri. Asal mereka tidak diganggu-ganggu lagi dari berbagai intrik politik.


Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Bangun Sepakbola, Indonesia Harus Belajar dari Islandia". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !